Latest Movie :
Recent Movies

UPAYA GURU BK DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIS SISWA PADA SMPN 23 BANJARMASIN



BAB I
PENDAHULUAN

Baron dan Richarson menegaskan bahwa  perilaku agresif merupakan bentuk perilaku yang bertujuan melukai atau menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal.[1] Tawuran anak sekolah merupakan contoh kasus yang menjadi perhatian serius pada saat ini. Terutama di kalangan SMP, mereka masih mengalami masa transisi antara masa kanak-kanak menginjak masa remaja awal. Biasanya pada usia tersebut remaja masih mengalami tugas perkembangannya yang sulit yaitu berhubungan dengan penyesuaian sosialnya. Sering terjadi perasaan mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya cenderung meledak karena tidak bisa mengendalikan perasaannya. Tidak heran jika dalam proses pembelajaran di sekolah SMP terdapat siswa yang memiliki perilaku agresif seperti memukul teman, berkelahi, menghina teman, berbuat jahil, dan sebagainya.
Kemungkinan tawuran antar siswa semakin bertambah jika siswa tersebut berasal dari keluarga kriminal, pernah dilecehkan, anggota geng, menggunakan  narkoba, dan sebagainya.[2] Kaitannya dengan dunia pendidikan dalam menghadapi hal ini, penelitian ini akan menggambarkan keadaan siswa di SMP Negeri 23 Banjarmasin.
A.    Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya pendidikan merupakan upaya untuk membentuk manusia yang lebih berkualitas. Kualitas manusia yang dimaksud adalah pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang serasi, selaras, dan seimbang dalam aspek-aspek spiritual, moral, sosial, intelekual, fisik, dan sebagainya.[3] Untuk mencapai hal tersebut, tidak hanya dapat dilakukan melalui proses pembelajaran. Akan tetapi, perlu adanya pendekatan lain seperti pendekatan Bimbingan dan Konseling yang dilakukan diluar situasi proses pembelajaran.
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Sebagaimana dijelaskan dalam PP. No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah pada BAB X Pasal 27 Ayat 1 yang dikutip dari Prayitno dalam bukunya Seri Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Buku II Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).[4] Oleh karena itu, bimbingan tidak hanya diberikan kepada siswa yang bermasalah saja, akan tetapi setiap siswa mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan dari guru bimbingan dan konseling. Sedangkan konseling ialah upaya pemberian bantuan oleh konselor kepada klien (siswa) melalui hubungan timbal balik untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang sedang dihadapinya dan pada waktu yang akan datang.[5]
Jadi, Bimbingan dan Konseling merupakan proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sitematis dari pembimbing (konselor) kepada konseli (siswa) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya untuk mengungkap masalah konseli sehingga konseli mampu melihat masalah sendiri, mampu menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.[6]
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah ada beberapa jenis layanan yang digunakan, yaitu: (1) Layanan Orientasi, (2) Layanan Informasi, (3) Layanan Penempatan dan Penyaluran, (4) Layanan Penguasaan Konten, (5) Layanan Konseling Perorangan, (6) Layanan Bimbingan Kelompok, (7) Layanan Konseling Kelompok, (8) Layanan Konsultasi, (9) Layanan Mediasi.[7]
Beberapa jenis layanan bimbingan dan konseling tersebut, harus dilaksanakan sesuai dengan bidang-bidang layanan bimbingan dan konseling. Adapun bidang layanannya ialah: (a) Bidang Bimbingan Pribadi; yaitu pemberian bantuan kepada siswa untuk menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani. (b) Bidang Bimbingan Sosial; yaitu pemberian bantuan kepada siswa untuk mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan. (c) Bidang Bimbingan Belajar; yaitu pemberian bantuan kepada siswa agar mampu mengembangkan diri, sikap, dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkannya melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. (d) Bidang Bimbingan Karier; yaitu pemberian bantuan kepada siswa agar mampu merencanakan dan mengembangkan potensi terhadap kariernya pada masa yang akan datang.[8]
Realita saat ini, kecenderungan siswa terhadap perilaku agresif sudah semakin meningkat. Kita ketahui bersama terjadinya tawuran antar siswa SMA 6 dengan siswa SMA 70 di Jakarta pada hari Senin 24 September 2012.[9] Sebenarnya tidak hanya sekedar tawuran saja yang termasuk dalam perilaku agresif, banyak perilaku-perilaku lain yang sering terjadi pada siswa yang menunjukkan perilaku agresif, baik itu disadari ataupun tidak. Misalnya siswa yang sering mengejek, memukul, memaksa, mengintimidasi, dan sebagainya.
Perilaku agresif menurut David O. Sars adalah setiap perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain, dapat juga ditujukan kepada perasaan ingin menyakiti orang lain dalam diri seseorang.[10] Baron dan Richarson menegaskan bahwa  perilaku agresif merupakan bentuk perilaku yang bertujuan melukai atau menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Perilaku agresif fisik biasanya ditunjukkan melalui perilaku menyerang orang lain (memukul, menampar, menendang, dan sebagainya). Sedangkan perilaku agresif verbal ditunjukkan melalui kata-kata seperti mengejek, berteriak, berkata kasar, dan sebagainya).[11]
Menurut penulis, perilaku agresif verbal dapat mengakibatkan munculnya perasaan agresif sehingga siswa mempunyai dorongan untuk berperilaku agresif fisik. Perasaan agresif yang dimaksud adalah suatu keadaan internal seseorang yang tidak dapat diamati secara langsung seperti marah, frustrasi, depresi dan sebagainya.[12] Islam juga mengajarkan kepada kita  bahwa sebaik-baik keadaan adalah menjaga perkataan. Dan bicaralah mengenai sesuatu yang diperbolehkan, yang sama sekali tidak berbahaya atasmu dan atas orang muslim.[13] Begitu juga Allah Swt menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 2 :83
øøŒÎ)ur $tRõ‹s{r& t,»sV‹ÏB ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) Ÿw tbr߉ç7÷ès? žwÎ) ©!$# Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $ZR$|¡ômÎ) “ÏŒur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ6»|¡uKø9$#ur (#qä9qè%ur Ĩ$¨Y=Ï9 $YZó¡ãm (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qŸ2¨“9$# §NèO óOçFøŠ©9uqs? žwÎ) WxŠÎ=s% öNà6ZÏiB OçFRr&ur šcqàÊ̍÷è•B .[14]

Dijelaskan juga dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ [رواه البخاري ومسلم][15]
Dari ayat dan hadits di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam berinteraksi sosial, kita harus berkata baik kepada sesama makhluk Allah terutama kepada manusia. Karena komunikasi yang kita sampaikan akan menentukan terhadap respons yang kita harapkan.
Pencegahan dan penanganan perilaku agresif yang terjadi pada siswa seharusnya segera diatasi, baik yang berupa perilaku agresif verbal maupun fisik. Karena hal ini akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Ketika hal ini  dibiarkan begitu saja maka siswa akan mengalami kesulitan dalam hubungan sosialnya, sehingga orang lain atau teman-temannya akan cenderung untuk menjauhinya.
Begitu banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi perilaku agresif, seperti pemberian hukuman atau pembalasan. Akan tetapi usaha ini tidak efektif dilakukan karena hukuman atau pembalasan sering menimbulkan rasa marah yang kemudian menyebabkan orang/siswa cenderung untuk melakukan agresif balik.[16]
Melihat pada perkembangan zaman sekarang ini, langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh para pendidik terutama guru bimbingan dan konseling agar perilaku agresif ini bisa berkurang sedikit demi-sedikit. Karena kemungkinan besar di berbagai sekolah akan menemui perilaku agresif yang dilakukan oleh siswa-siswanya itu. Seperti dari hasil wawancara yang pernah penulis lakukan di SMPN 23 Banjarmasin yang melibatkan guru bimbingan dan konseling beliau mengatakan bahwa di sekolah tersebut sering juga terjadi perkelahian antar siswanya dan juga siswanya mengatakan bahwa awal perkelahian tersebut terkadang terjadi karena berawal dari saling mengejek.[17]
Mayoritas siswa di sekolah tersebut adalah dari anak-anak di sekitar sekolah itu. Daerahtersebut termasuk daerah yang lokasi rumahnya sangat berdempetan antara yang satu dengan yang lain atau dengan kata lain lokasinya sempit. Hal itu memungkinkan dapat berpengaruh pula terhadap terjadinya perilaku agresif karena kemungkinan mereka merasa kurang nyaman sehingga perasaannya itu terbawa ke sekolah.
Dari uraian di atas, penulis mempunyai dorongan dan ketertarikan untuk melakukan penelitian di SMPN 23 Banjarmasin karena ingin mengetahui bagaimana guru bimbingan dan konseling menghadapi masalah ini. Oleh karena itu penulis mengangkat suatu judul penelitian ”UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF SISWA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI (SMPN) 23 BANJARMASIN ”.


B.     Fokus Penelitian
Dari latar belakang di atas, maka penulis dapat membuat rumusan masalah atau fokus penelitian sebagai berikut:
1)      Bagaimana perilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin ?
2)      Apa saja penyebab perilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin ?
3)      Bagaimana Upaya guru Bimbingan dan Konseling dalam mengurangi perilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin ?

C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang penulis inginkan adalah:
1)      Mengetahui perilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin.
2)      Mengetahui penyebabperilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin
3)      Mengetahui upaya guru Bimbingan dan Konseling dalam mengurangi perilaku agresif siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Banjarmasin


D.    Kegunaan Penelitian
a.      Kegunaan secara Teoritis
Secara teoritis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi semua pihak, khususnya pada pihak-pihak yang berkompeten dengan permasalahan yang diangkat serta dapat memperkaya khazanah dan wawasan keilmuan.
b.      Kegunaan secara Praktis
Secara praktis diharapkan penelitian ini berguna bagi :
1.   Lembaga Sekolah. Dapat memberi kontribusi sebagai bahan pengembangan Bimbingan dan Konseling serta dapat dijadikan sebagai sarana terhadap peningkatan kualitas Bimbingan dan Konseling di sekolah.
2.   Pembimbing (Konselor). Sebagai rujukan bagi pembimbing (konselor) di SLTP/MTs sederajat dalam mencegah dan menangani perilaku agresif siswa.
3.   Sebagai bahan pengembangan dalam penulisan karya tulis ilmiah dan untuk mengembangkan pengetahuan di bidang Bimbingan dan Konseling Islam.

E.     Definisi Operasional
Dalam penelitian ini, penulis akan menjelaskan secara rinci tentang wilayah penelitian dan definisi operasional yang akan diteliti, agar dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi penelitian ini, sehingga langkah dan tujuan dari penelitian ini lebih terfokuskan.
Definisi operasional dalam penelitian ini meliputi :
a)      Upaya Guru Bimbingan dan Konseling
Upaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah usaha; akal; ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dsb).[18] Upaya guru Bimbingan dan Konseling yang penulis maksudkan adalah segala usaha yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling untuk mencapai suatu maksud yaitu mengurangi perilaku agresif siswa yang sering terjadi di sekolah seperti tawuran antar pelajar.
b)      Mengurangi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengurangi adalah mengambil (memotong) sebagian; menjadikan berkurang; merugikan; menjadikan kurang.[19] Mengurangi yang penulis maksud adalah berkurangnya perilaku agresif yang semula sering terjadi sehingga siswa bisa menempatkan luapan emosinya secara baik.
c)      Perilaku Agresif
Perilaku ialah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.[20]
Agresif ialah bersifat atau bernafsu menyerang; Psi cenderung (ingin) menyerang sesuatu yang dipandang sebagai hal atau situasi yang mengecewakan, menghadapi, menghalangi, atau menghambat.[21]
Jadi, perilaku agresif ialah tanggapan atau reaksi seseorang  yang bersifat menyerang kepada orang lain atau benda sehingga dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Perilaku agresif yang penulis maksudkan ialah perilaku siswa yang bersifat menyerang, menyakiti terhadapa orang lain atau benda sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap temannya serta orang-orang di sekitarnya. Seperti perilaku siswa yang sering tawuran atau berkelahi dengan sesama temannya.
F.     Sistematika Penulisan
Penelitian ini penulis susun dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I adalah pendahuluan, yang berisi (a) latar belakang masalah, (b) fokus penelitian, (c) tujuan penelitian, (d) kegunaan penelitian, (e) definisi operasional dan (f) sistematika penulisan.
Bab II berisi tinjauan teoritis meliputi (a) pengertian perilaku agresif,
(b) perspektif teoritis mengenai agresi, (c) penyebab perilaku agresif, (d) upaya mengurangi perilaku agresif
Bab III berisi metode penelitian, yang terdiri dari (a) jenis dan pendekatan penelitian, (b) data dan sumber data, (c) teknik pengumpulan data,
(d) teknik pengolahan data, (e) analisis data, dan (f) prosedur penelitian.
Bab IV adalah laporan hasil penelitian, yang meliputi a) gambaran umum lokasi penelitian, b) penyajian data, dan c) analisis data.
Bab V adalah penutup, yang berisi a) simpulan dan b) saran.


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis  dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu salah satu metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang tidak memerlukan pengetahuan mendalam akan literatur yang digunakan dan kemampuan tertentu dari pihak peneliti. Penelitian lapangan biasa dilakukan untuk memutuskan ke arah mana penelitiannya berdasarkan konteks. Penelitian lapangan biasa diadakan di luar ruangan.[1] Penganalisisan data pada penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif serta mengambil kesimpulan menggunakan metode induktif.
B.     Data dan Sumber Data
1.      Data
Data yang digali dalam penulisan ini terdiri dari dua klasifikasi, yaitu:
a)      Data pokok, meliputi data tentang (1) gambaran perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin, (2) penyebab perilaku agresif pada SMPN 23 Banjarmasin, dan (3) upaya yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling dalam mengurangi perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin.
b)      Data pelengkap, ialah data yang berkenaan dengan gambaran umum lokasi penelitian, yang meliputi:

1)      Sejarah singkat berdirinya SMPN 23 Banjarmasin
2)      Visi dan Misi SMPN 23 Banjarmasin
3)      Identitas SMPN 23 Banjarmasin
4)      Keadaan guru BK dan susunan personalia organisasi SMPN 23 Banjarmasin.
2.      Sumber Data
Untuk memperoleh data tersebut penulis mendapatkannya dari sumber-sumber berikut:
a.       Responden adalah orang yang memberikan informasi secara langsung, yaitu guru Bimbingan dan Konseling dan siswa SMPN 23 Banjarmasin.
b.      Informan adalah orang yang memberikan informasi tambahan sebagai pelengkap, Kepala Sekolah, wali kelas, guru Mata Pelajaran, dan tenaga kependidikan lain di SMPN 23 Banjarmasin.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulandata ini sangat penting dalam suatu penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penelitian kualitatif,pengumpulan data dilakukan dalam berbagai setting, sumber, dan cara. Dilihat dari settingnya, data dikumpulkan pada natural setting (kondisi yang alamiah), jika dilihat dari sumber datanya, data dikumpulkan dengan menggunakan sumber data primer. Dan jika dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data lebih banyak menggunakan observasi partisipatif (participant observation), wawancaramendalam (in depthinterriview) dan dokumentasi.
Catherine Marshal, Grettch B, Rossman sebagaimana yang dikutip oleh  Sugiono(dalam bukunya Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 2010) menyatakan bahwa“the fundamental methods relied on by qualitative researchers for gathering information are, participation in the setting, direct observation, in-depth interviewing, document review”.[2]
Maka dari itu, peneliti berusaha menggali data dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
1.      Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan secara sitematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, baik yang dilakukan pada saat berlangsungnya peristiwa atau tidak pada saat berlangsungnya peristiwa.[3] Misalnya peristiwa itu diamati melalui film, rangkaian slide, atau photo mengenai perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin.
2.      Interview (wawancara), yaitu alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Interview dilakukan dengan cara kontak langsung atau tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee).[4] Wawancara yang dimaksud ditujukan untuk memperoleh informasi tentang usaha guru Bimbingan dan Konseling dalam mengurangi perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin.
3.      Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara (inteview) dalam penelitian kualitatif [5] meliputi: sejarah singkat berdirinya sekolah, kepala sekolah, keadaan guru, staf tata usaha, daftar siswa asuh, struktur organisasi Bimbingan dan Konseling, program semester dan program tahunan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling, dan silabus Bimbingan dan Konseling.
D.    Matriks
MATRIKS
No.
Fokus Penelitian
Sumber Data
Alat Pengumpulan Data
1.
Bagaimana perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin
1.      Guru Bimbingan dan Konseling
2.      Wali kelas
3.      Guru Mata Pelajaran
4.      Tenaga Kependidikan lainnya
1.      Interview (wawancara)
2.      Observasi
3.      dokumen
2.
Apa saja penyebab perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin
1.      Guru Bimbingan dan Konseling
2.      Siswa
3.      Guru Mata Pelajaran
1.      Interview (wawancara)
3.
Bagaimana upaya guru Bimbingan dan Konseling dalam mengurangi perilaku agresif siswa pada SMPN 23 Banjarmasin
1.      Guru Bimbingan dan Konseling
1.      Interview (wawancara)



E.     Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data
1.      Teknik Pengolahan Data
Sebelum penulis mengadakan analisis data yang terkumpul, penulis melakukan pengolahan data dengan cara ssebagai berikut:
a.    Reduksi Data
Reduksi data adalah data yang diperoleh dalam lapangan ditulis/diketik dalam bentuk uraian atau laporan yang terinci. Data  yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan, juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan.
b.    Display Data
Display data adalah  untuk melihat gambaran keseluruhannya atau bagian-bagian tertentu dari penelitian itu, harus diusahakan membuat  matrik. Dengan demikian peneliti dapat mengusai data dan tidak tenggelam dalam tumpukan detail.
c.    Mengambil Kesimpulan dan Verifekasi
Peneliti berusaha untuk mencari makna data yang dikumpulkannya. Untuk itu ia mencari pola, thema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya.  Jadi dari data yang diperolehnya, ia sejak mulanya mencoba mengambil kesimpulan. Kesimpulan itu mula-mula masih sangat tentative, kabur, diragukan, akan tetapi dengan bertambahnya data, maka kesimpulan itu lebih “ grounded”. Jadi kesimpulan senantiasa harus diverifekasi selama penelitian berlangsung. Verifekasi dapat singkat dengan mencari data baru.[6]
2.      Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasi data kedalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih, mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.[7]
Dalam menganalis data yang peneliti peroleh dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan kejadian atau keadaan yang sebenarnya dlm bentuk kalimat atau uraian. Seanjutnya menarik kesimpulan dalam penelitian ini menggunakan metode induktif yaitu pengambilan simpulan umum dari hal-hal yang bersifat khusus.
F.     Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan prosedur penelitian yang penulis lakukan, yaitu:
1)      Tahap Pendahuluan
a.       Penjajakan kelokasi penelitian
b.      Membuat desain proposal
c.       Mengajukan desain proposal skripsi kepada dosen pembimbing Akademik untuk diadakan koreksi
d.      Mengajukan desain proposal skripsi dan memohon persetujuan judul.
2)      Tahap Persiapan
a.       Seminar Proposal Skripsi
b.      Membuat instrumen pengumpulan data
c.       Memohon surat perintah riset kepada Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin.
d.      Menyampaikan surat perintah riset kepada pihak yang bersangkutan.
3)      Tahap Pelaksanaan
a.       menghubungi responden dan informan untuk menggali data sesuai dengan teknik yang telah ditetapkan;
b.      Mengumpulkan data dan mengolah data;
c.       Menganalisis data;
d.      Menuangkan hasil penelitian kedalam sebuah skripsi sambil berkonsultasi dengan dosen pembimbing.
4)      Tahap Pelaporan
a.       menyusun data ke dalam pelaporan sambil berkonsultasi dengan dosen pembimbing;
b.      mengadakan perbaikan naskah sesuai saran dan koreksi pembimbing;
c.       memperbanyak naskah yang sudah disetujui;
d.      mengajukan naskah untuk dimunaqasyahkan.



[2]Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2010), cet. ke-11, h. 308-309
[3] S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997),
cet. pertama, h. 158-159
[4] Amirul Hadi, H. Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), h. 135
[5] Sugiono, Op.cit., h. 329
[6] Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 2003), h.129-130
[7] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung Alfabeta,  2011) , h. 24



[1] Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 212
[2] Shelley E. Taylor, dkk, Psikologi Sosial, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 516
[3] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 5
[4] Prayitno, et al., Seri Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Buku II Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), (Padang: Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia, 1997), h. 6
[5] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), h. 21
[6] Tohirin, Op.cit., h. 26
[7]Ibid., h. 141-195
[8] Dewa Ketut Sukardi, Op.cit., h. 38-41
[9] http://ciricara.com/2012/09/25/kronologi-tawuran-siswa-sma-6-sma-70/
[10] David O. Sears, et al., PsikologiSosial, (Jakarta: Erlangga, 1994), h. 3

[11]Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 212-213
[12]David O. Sears, et al., Op.cit., h. 5
[13]Imam Al-Ghazali, Bahaya Lisan dan Cara Mengatasinya, (Surabaya: TigaDua, 2004),
h. 25
[14] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya, (Surabaya: Duta Ilmu), h. 15
[15] Muhammad Thalib, Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, (Yogyakarta: Media Hidayah, 2001), h. 83
[16]David O. Sears, et al., Op.cit., h. 20
[17]Hasil observasi pada tanggal 14 Maret 2013 di SMPN 23 Banjarmasin
[18] Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005 ), h. 995
[19] Ibid, h. 478
[20] Ibid, h. 859
[21] Ibid., h. 13

HARGA BAHUMU


BERAPA HARGA BAHUMU………..?*

Setiap manusia hidup di dunia disamping ada wilayah untuk memilih yang terbaik dari yang baik juga ada hal yang tidak bisa ditutup-tutupi dan kita tidak bisa lari dari hal tersebut, yaitu sedih dan bahagia. Dua hal itulah yang akan selalu datang tanpa kita sadari dan memaksakan diri untuk menggapainya karena dua hal itu wilayahnya ada pada diri kita yang terdalam yaitu perasaan.
Dua perasaan tersebut diatas datang pada setiap diri kita tanpa melihat strata sosial, cantik, jelek, gemuk, kurus, besar kecil, dan kaya raya. Semuanya akan pasti merasakan dua hal ITU termasuk juga dengan penulis.
Satu bulan yang lalu penulis sempat trauma dan hampir tidak mengenal diri sendiri, kejadian itu bermula dari retaknya sebuah hubungan yang telah dibangun dengan seorang perempuan yang penulis anggap dan mempunyai keyakinan akan menjadi pasangan hidup. Tepi takdir berkata lain dia meninggalkan penulis tanpa kabar dan ada kemungkinan memilih orang yang lebih pinter, kaya dan tampan dari penulis, eh jadi curhat nich…………….. he he he he he he….
Tapi yang penulis maksud bukan pada curhatan tersebut, ada satu hal yang membuat penulis ingat dari pesan nenek yang ketika penulis masih kecil pada saat itu bersamaan dengan hari raya idul fitri nenek memberikan pesan yang singkat akan tetapi penulis masih belum pahami, yaitu “ bhauna ba’na rea larang argana cong” yang artinya bahumu itu mahal harganya. Pesan itu yang belum sempat penulis tafsirkan dan tak menemukan maksud yang sebenarnya, baru pada bulan yang lalu penulis berasumsi itulah jawaban dari yang nenek pesan.
Disaat itu penulis kebingungan harus pergi kemana dan apa yang bisa dilakukan dalam menyelesaikan semua konflik batin, lalu tanpa penulis menta  embak mendatangi penulis dan memeluk sambil meminta kepala disandarkan kebahunya, dia sambil berkata. Ayooo sekarang menangis sepuasmu sampai baju embak basah dengan air matamu.itu kata-kata embak yang penulis ingat waktu itu. Dan penulis lakukan itu semua sambil mengeluarkan resah yang membelenggu dalam diri penulis.
Kira-kira setengah jam penulis dalam pelukan embak dan bajunya telah basah dengan air mata. Embak yang setia tidak satupun kata yang keluar setelah memintaku menyandarkan kepada kebahunya, dia hanya menatap dengan senyum. Lalu embak melepas penulis dari pelukannya sambil menyeka air matanya yang membasahi pipinya yang tembem.
Pada saat itulah penulis teringat dengan pesan nenek yaitu begitu sangat mahalnya harga bahu, dalam artian membarikan simpati dan empati pada orang lain merupakan satu hal yang sulit untuk kita realisasikan dalam hidup kita. Yang ada malah ketika ada orang yang sedih mereka acuh tak acuh dan bisa jadi tambah mengejeknya. Penulis tambah sadar bahwa yang nenek katakana bahu yaitu karena bisa dijadikan tempat menahan kepala dari orang yang sedih atau menangis.
Oleh karena itu tidak ada pilihan lain selain bagaimana kita terus memumpah diri untuk selau ada pada seseorang yang sedang dilanda masalah atau sedih dengan memberikan motivasi dan  penguatan supaya lebih tegar lagi. Karena ketika ada sesorang yang sedih pada dasarnya mereka tidak butuh uang dari kita akan tetapi hanya butuh simpati dan empati yang tulus. Dan membuat mereka nyaman bersama kita sehingga kesedihannya hilang.

*Tulisan ini lahir pada saat penulis sedang merenung dalam kesindirian di kamar yang sunyi sambil menangisi masa lalu yang membekas dalam diri penulis.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Fawaid Zaini Aisyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger